Home / Berita Terkini / Sutrisno Tinjau Petani Bawang, Pemerintah Diminta Jangan Impor Bawang

Sutrisno Tinjau Petani Bawang, Pemerintah Diminta Jangan Impor Bawang

bawangJATITUJUH (SKN) Kerugian petani akibat cuaca buruk terutama hujan yang sering turun dengan intensitas yang cukup padat, membuat Bupati Majalengka H. Sutrisno SE, MSi meninjau langsung lokasi pertanian bawang di Desa Panongan Kecamatan Jatitujuh, Senin (24/10).

Menurut Bupati Sutrisno, pihaknya meminta agar Kementerian Pertanian tidak mengimpor bawang. Alasannya jika bukan karena faktor cuaca, panen bawang di akhir tahun 2016 ini bisa mendatangkan untung yang besar.

Sutrisno mengatakan jenis bawang yang ditanam di wilayah Majalengka adalah jenis bawang Cicurut, yang menurut ahli bawang dari Brebes itu merupakan bawang jenis terbaik dan dimungkinkan untuk suplai bawang ke wilayah lain bisa disalurkan dari Majalengka ke wilayah lain.

“Sekarang ini kalkulasinya memang meleset, itu sejumlah keluhan dari para petani. Faktor guyuran hujan menjadi penyebab utama kerugian petani. Padahal jika kemarau, keuntungan bisa berlipat,” terangnya.

Sutrisno menambahkan pihaknya mendapatkan laporan bahwa penghasilan bawang per hektar itu jika panen dalam kondisi bagus bisa mencapai 10 ton per hektar. Sementara dengan kondisi buruk seperti sekarang ini hanya menghasilkan panen 5 ton per hektar.

“Sekarang itu modal petani bisa balik lagi itu sudah merupakan keuntungan. Rata-rata panen sekarang hasilnya mengecewakan, sehingga modal bisa kembali itu bisa dikatakan untung,” ujarnya.

Bupati berharap agar pihak Kementrian jangan mengimpor barang, lebih baik menyejahterakan petani bawang pribumi/lokal. Sementara itu, salah seorang petani bawang H. Wahid mengatakan kerugian panen bawang tahun ini karena dua faktor, yakni cuaca, dan harga bibitnya terlalu mahal yakni mencapai Rp. 60 Ribu per kilogram, sementara harga normalnya biasanya itu Rp. 20 Ribu.

“Tapi kami tidak kapok, artinya keuntungan dari bawang bisa mencapai dua kali lipat jika saja ditanam dengan kondisi cuaca panas dan jarang hujan. Kalkulasinya dalam 1 hektarnya menghabiskan biaya Rp.90 Juta, sementara sekarang baru kembali setengahnya. Namun jika untung bisa berlipat. Itulah usaha bertani, kalau lagi untung ya banyak, kalau rugi, ya modal pun hilang sebagiannya,” keluh dia. (rch/jm)

About Sindangkasih News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bupati Karna Sobahi: Dirut yang Baru Harus Bisa Menyelamatkan Perumda BPR Majalengka

MAJALENGKA, – Perusahaan Umum Daerah Bank Perkreditan Rakyat (Perumda BPR) Majalengka merupakan ...

%d blogger menyukai ini: